Jumat, 26 Juni 2009

Sarinah

Sarinah
o/: Faradian

Judul buku : “Sarinah”
Kewajiban Wanita Dalam Perdjoangan Repoeblik Indonesia
Penulis : Ir. Soekarno

“Soal wanita adalah soal masyarakat” kata ini yang terbesit pada awal membaca buku ini, dan membawa kita kemasalah kemasyarakatan secara utuh. Buku sarinah yang dibuat oleh bung karno ini berawal dari kesadaran beliau tentang betapa pentingnya peranan wanita dalam perjuangan nasional Indonesia. Yang dapat diakui pada saat bung karno menulis buku ini adalah pada tahun 1947, yaitu 2 tahun setelah Indonesia lahir sebagai bangsa yang baru memiliki kedaulatan. Artinya bahwa pada masa itu Indonesia baru berada pada pintu gerbang untuk mecari jati diri bangsa menuju kesejahteraan sosialnya.
Bung karno melihat bahwa wanita menjadi obyek perhiasan didalam suatu bangunan, wanita menjadi sosok manusia yang tiada berguna bagi masyarakatnya. Wanita menjadi blesteran antara dewi dan manusia tolol kata Haveloch Ellis. Kebanyakan para lelaki memuja karena keelokan dan keindahan yang dimiliki perempuan layaknya seorang dewi tapi juga menololkan pikirannya karena telah membutakannya dari segala informasi dan pendidikan dunia. Ini sangat bertentangan dengan apa yang disebut dengan perjuangan secara utuh dan merata yang selalu menjadi kekuatan bangsa Indonesia, bung Karno selalu menyerukan persatuan. dan Persatuan untuk bersama-sama merebut dan mempertahankan kedaulatan bangsa.
Hal ini adalah akibat dari belenggu patriarki yang sangat amat melekat didalam tubuh pikiran masyarakat, yang kemudian berhasil merebut hak-hak dan kewajiban-kewajiban wanita-wanitanya. Anggapan ini merasuk sampai kepada tataran bersosial, bermasyarakat, berbudaya dan berpolitik tentunya, anggapan yang kemudian meletakkan wanita didalam kelas nomer dua, mereka hanya dijadikan perhiasan yang akan dijaga oleh tuannya dan disimpan rapat-rapat agar jangan sampai mereka terluka dan tergores dengan apapun juga. Tapi sungguh kemudian ini menjadi momok yang maha dahsyat bagi kaum wanita Indonesia untuk dapat membuka cakrawala berpikirnya, membentangkan cita-cita dan mempertajam pisau analisisnya terhadap perkembangan bangsa dan ilmu pengetahuan.
Sungguh keadaan ironi yang dipahami bung Karno sebagai sebab tidak majunya suatu bangsa dan negara karena keadaan wanitanya. Dan apabila keadaan yang seperti ini diteruskan sampai bertahun-tahun kedepan maka sungguh terpuruklah bangsa ini.
Keadaan wanita yang ditindas itu akhirnya niscaya membangunkan dan membangkitkan suatu pergerakan yang kemudian dengan harapan dapat membumihanguskan penindasan bagi mereka. Berawal dari revolusi Amerika dan revolusi Perancis lah kaum wanita memulai pergerakannya, walaupun perkembangannya tidak secara vertikal merubah dan membentuk diri perempuan dalam perjuangan yang progresif. seiring dengan perkembangannya pergerakan perempuan ini kemudian terbentuk dalam tiga kelas, kelas pertama yang dipelopori oleh Madame de Maintenon adalah pergerakan yang mana wanita berusaha untuk memperkaya dirinya dengan kepandaian-kepandaian sebagai wanita. Sebagai contoh mereka memperdalam cara memasak, menjahit, merias diri, menyulam dan lain sebagainya. Dengan pergerakan yang seperti ini adalah masih meletakkan fungsi wanita dalam melayani laki-laki dan untuk mencapai satu tingkat yang lebih berkualitas dibandingkan dengan keadaan wanita pada awal kajian diatas.
Akan tetapi keadaan yang seperti ini dianggap belum banyak merubah keadaan wanita dalam posisinya dibandingkan kaum laki-laki. Pada kelas kedua mereka meminta pengakuan yang lebih dan bukan hanya sekedar pelengkap dalam masyarakat saja. Kaum perempuan yang kemudian menyebut diri mereka dengan sebutan kaum feminis meminta persamaan derajat dan posisi dengan kaum laki-lakinya, bahkan mereka pun meminta posisi sebagai anggota parlemen didalam pemerintahan. Mercy Otis Waren dan Abigail Smith Adams dari Amerika, Madame Roland dari kaum atasan Perancis, Olimpe de Gauges (wanita kaum bawahan Perancis yang dipenggal kepalanya oleh algojo karena kebaraniannya menentang kaum laki-laki), dan banyak lagi yang lainnya adalah nama2 perempuan yang menelurkan gerakan feminis itu tadi.
Akan tetapi bagi rakyat proletar pergerakan feminis ternyata tidak memuaskan, bahkan terkadang menjadi sesuatu yang berbahaya. Bagi kaum proletar ini pergrakan ini tidak menjadi solusi kongkrit bagi mereka, karena yang kaum wanita ini butuhkan bukan hanya pembebasan bagi wanita borjuis yang dapat masuk kedalam parlemen saja. Tapi diluar dari itu adalah kemerdekaan ekonomi, yang mereka inginkan adalah perjuangan social yaitu kemerdekaan social.
Dari kedua kelas tadi akhirnya terbentuklah satu kelas lagi, kelas ketiga yaitu pergerakan wanita sosialis yang didalamnya memperjuangkan kemerdekaan social. Ini berbeda dengan pergerakan tingkat kedua yang hanya sekedar mencari persamaan hak saja dengan kaum laki-laki, yang dalam perjuangannya adalah melawan kaum laki-laki. Keadilan sosial yang dibutuhkan oleh kaum proletar tadi sama sekali tidak dikejar. Perbedaan ini telah memberikan titik terang bahwa pergerakan yang kita lakukan sebagai wanita adalah sudah menjadi keharusan berada pada tingkatan yang ketiga. Karena disana perjuangan dilakukan bersama-sama dengan kaum laki-laki untuk bersama-sama mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan menjadikan kedaulatan bangsa yang bercirikan kesejahteraan sosial.
Dan akhirnya nasib kaum wanita berada ditangan wanita itu sendiri. Penyadaran bahwa syarat mutlak untuk mencapai Revolusi Nasional adalah Persatuan Nasional yang sudah menjadi ketentuan dan keharusan bagi masyarakat yang didalamnya terdapat kaum perempuan dan laki-laki.

Kata bung Karno: “Janganlah didalam Revolusi Nasional ini wanita misalnya terlalu meletakkan titik berat kepada mengemukakan tuntutan-tuntutan feministis, dan melupakan tuntutan-tuntutannya perjuangan membela kemerdekaan Negara dan kemerdekaan Bangsa. Sebaliknya, adakanlah penggabungan tenaga antara perempuan dan laki-laki yang sehebat-hebatnya, adakanlah perjuangan nasional yang sebulat-bulatnya. Laki-laki dan perempuan bersama kesatu tujuan, dan janganlah menentang satu sama lain, tetapi berjuanglah bahu membahu serapat-rapatnya membela kemerdekaan Nasional.“

Merdeka!!!

meMilih..

Bahwa manusia di Dunia memang untuk memilih..
Memilih sesuai dg dg karakter masing2 pribadinya..Asal tidak berusaha menjadi orang yang lain..
Pilihan tidak akan salah.
Dan Karakter yang ada pd manusia2 tidak akan pernah lepas dari keberadaan dan perannya..
tapi kemudian, kehidupan yang beragam ini menuntut kita untuk menyesuaikan diri dengannya!

Seperti burung yang bebas terbang menembus cakrawala instingnya,, Tidakkah kemudian manusia ingin memejamkan mata,,, menghirup udara semampunya,,, merasakan keberadaannya di Dunia dan Melakukan yang terbaik untuk Dunianya.. Tapi kemudian.. begitu baaanyak perpektif di dunia, dibarengi dengan begitu baaanyak pilihan dalam menjalani hidup.
Sehingga nilai "Menjalani Hidup dengan Baik" pun menjadi sangat relatif. dari mana aku ada dan melihat..begitu relatifnya nilai-nilai pada manusia,Tapi kemudian kerelatifan itu tetap akan dibatasi dengan ruang dan waktu.
Sehingga... aku hanya bisa berada dalam pilihan-pilihan itu dan berada dalam kesempata-kesempatan itu..Seperti nafas ku,Sampai pada waktu yang sudah ditentukan..Sampai pada akhirnya semua akan menjadi sangat berbeda..entah akan menjadi bagaimana.
faradeean